Rabu, 25 April 2018

PENILAIAN RENCANA INVESTASI SYARIAH


Nur Auliah
1601270017
4A-Perbankan Syariah’16 Pagi
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

PENILAIAN RENCANA INVESTASI SYARIAH

A.    Analisis Pengeluaran Modal Dalam Perspektif Islam
Tulisan ini mencoba untuk mempertemukan semua kebutuhan dari suatu alat analisa investasi yang efisiensi dalam kerangka syariah, yaitu:
Pertama, bab ini membahas investasi di sektor  swasta, dimana masing-masing proyek mempunyai arus biaya dan manfaat yang terbatas. Disini tidak didiskusikan tentang investasi sektor publik dimana kepuusan investasi lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan sosial atau politis dibandingkan dengan pertimbangan ekonomi. Tetapi analisis yang ada saat ini (dengan sedikit modifikasi) bisa diterapkan untuk perusahaan sektor publik yang komersial secara alami.
Kedua, untuk sebagian besar waktu, diasumsikan, bahwa pertimbangan investasi merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah seperti periode investasi yang diikuti oleh periode pengambilan.
Ketiga, manfaat dan biaya-biaya dapat dijelaskan ada saat periode waktu, sehingga arus kas (cash flow) tidak berlangsung kontinu tetapi berlangsung pada waktu tertentu.
Keempat, periode waktu mungkin dinyatakan pada periode waktu tertentu, misalnya satu tahun, satu bulan, satu minggu, atau satu hari.
Kelima, ekonomi yang akan dianalisis adalah ekonomi bebas riba.

B.     Analisis Ringkasan Tentang Praktik Analisis Investasi Konvensional
     
Suatu organisasi mempunyai kreteria yang bebeda untuk investasi sehingga mereka mengadopsi metode untuk analisis usulan pengeluaran modal. Seringkali suatu metode dilengkapi dengan dua metode atau lebih untuk memastikan suatu keputusan investasi yang tepat. Dengan cara yang sama, kebutuhan suatu organisasi, kadang-kadang membutuhkan modifikasi terhadap metode yang biasa digunakan dan cakupan modifikasi seperti itu sangat luas.
 Metode yang paling banyak digunakan dalam analisis investasi konvensional adalah :
1.      Metode Payback
Metode ini berari dalam banyak waktu investasi akan membayar kembali biayanya. Biasanya dalam hitungan tahun, meskipun periode yang lebih pendek juga diambil sebagai ukuran. Investasi cara ini lebih baik dilakukan dengan cara membayar kembali biaya-biaya awalnya lebih awal.
2.      Accountants Rate of Return = ARR
Metode ini adalah ukuran sederhana menyangkut keuntungan investasi. Metode ini berhubungan dengan tingkat pengembalian modal.

3.      Discounted Cash Flow Rate of Return = DCFR
Dua metode di atas sering di kritik mengabaikan nilai uang sebagai fungsi waktu. Metode DCFR dibuat dengan memperhitungkan waktu pengeluaran dan waktu berjalan. Ada tiga pertimbangan untuk membuat metode ini. Pertama, mata uang rupiah hari ini lebih berharga dari satu tahun ke depan, dalam kaitannya dengan inflasi yang mengurangi nilai mata uang dari waktu ke waktu. Kedua, semakin dekat dengan hari pengembalian investasi, semakin sedikit nilai ketidakpastian, sebab jarak waktu sering menimbulkan ketidakpastian. Ketiga, dana yang dihasilkan suatu proyek pada tanggal lebih awal akan tersedia untuk investasi kembali.

4.      Net Present Value Method = NPV
Pendekatan lain untuk mengevaluasi proposal investasi adalah NPV. Ada perbedaan sedikit antara DCFR dan NPV dan keduanya diterima sebagai perangkat yang paling pantas untuk pengangguran modal (budgeting). Tetapi NPV tidak bisa diterima untuk alasan-alasan yang dibuat dibawah DCFR.

5.      Muchinery Allied Product Institute Method (MAPI)
Metode ini digunakan untuk mengevaluasi modal proyek yang kecil dan pengeluarannya tidak besar. Metode ini dengan bantuan tabel kalkulasi terperinci memikirkan tujuan tertentu dengan membagi rata-rata keuntungan dengan rata-rata investasi dan menemukan suatu tingkat nilai yang dikenal sebagai MAPI. MAPI menjadi ukuran keuntungan suatu proposal.

C.     Evaluasi Investasi Dalam Kerangka Syariah

Ketika gagasan dasar bahwa waktu mempunyai nilai dan mempertimbangkan waktu dalam arus kas adlah sesuatu yang bisa diterima, analisis teknik pengeluaran modal sudah menggunakan konsep modal tetap yang tidak islami. Jadi ada kepentingan untuk membuat rumusan alternatif, di samping keinginan untuk membuat sebuah karakter yang sederhana dan rasional dengan melibatkan uang sebagai fungsi waktu. Terkait dengan hal ini, maka perlu adanya metode yang dapat digunakan untuk menilai atau mengevaluasi proyek investasi sesuai dengan kerangka syariah.
Metode yang diusulkan dalam kerangka keuangan syariah adalah “Investible Surplus Methode/metode kelebihan barang yang diinvestasikan” atau ISM. Pertanyaan yang penting adalah beberapa banyak “investible surplus” yang dihasilkan selama proyek berlangsung? Jawabannya diketahui dengan menghitung banyaknya tahun di mana sisa investible surplus organisasi (setelah menutup biaya awal proyek) dikalikan dengan kuantum surplus.

D.    Keuntungan ISM Dibanding Metode Yang Lain
1.      Dibanding Metode Payback
a.       ISM mengukur keuntungan proyek, sedangkan Metode payback tidak.
b.      Payback mempunyai suatu penyimpangan terhadap investasi longer-lived (jangka panjang) sedangkan ISM tidak.
c.       Payback tidak mempertimbangkan arus kas setelah biaya ditutupi sedangkan ISM mempertimbangkan semua arus kas selamanya proyek berlangsung.
d.      Payback mengabaikan nilai uang sebagai fungsi waktu sedangkan ISM memperhitungkan kartu pengeluaran dan waktu berjalan.
2.      Dibanding dengan ARR
ISM mempertimbangkan nilai uang sebagai fungsi waktu, ARR tidak.
3.      Dibanding dengan DCFR dan NPV
a.       Kedua metode dipahami dalam kerangka kapitalistik dimana riba digunakan untuk pemotongan arus kas. ISM lebih relevan digunakan dalam kerangka bebas riba, dengan ide sentralnya adalah mengabaikan suku bunga.
b.      Lebih dari itu, ISM lebih sederhana untuk dipahami dan diterapkan dibandingkan kedua metode ini.
4.      Dibanding MAPI
MAPI sukar digunakan dan tidak mempertimbangkan nilai uang sebagai fungsi waktu. ISM mudah digunakan dan juga mempertimbangkan pemilihan waktu arus kas.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar