Nur
Auliah
1601270017
4A-Perbankan
Syariah’16 Pagi
Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara
PENILAIAN
RENCANA INVESTASI SYARIAH
A. Analisis
Pengeluaran Modal Dalam Perspektif Islam
Tulisan ini mencoba
untuk mempertemukan semua kebutuhan dari suatu alat analisa investasi yang
efisiensi dalam kerangka syariah, yaitu:
Pertama, bab ini
membahas investasi di sektor swasta,
dimana masing-masing proyek mempunyai arus biaya dan manfaat yang terbatas. Disini
tidak didiskusikan tentang investasi sektor publik dimana kepuusan investasi
lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan sosial atau politis dibandingkan
dengan pertimbangan ekonomi. Tetapi analisis yang ada saat ini (dengan sedikit
modifikasi) bisa diterapkan untuk perusahaan sektor publik yang komersial
secara alami.
Kedua, untuk sebagian
besar waktu, diasumsikan, bahwa pertimbangan investasi merupakan sesuatu yang
terjadi secara alamiah seperti periode investasi yang diikuti oleh periode
pengambilan.
Ketiga, manfaat dan
biaya-biaya dapat dijelaskan ada saat periode waktu, sehingga arus kas (cash
flow) tidak berlangsung kontinu tetapi berlangsung pada waktu tertentu.
Keempat, periode waktu
mungkin dinyatakan pada periode waktu tertentu, misalnya satu tahun, satu
bulan, satu minggu, atau satu hari.
Kelima, ekonomi yang
akan dianalisis adalah ekonomi bebas riba.
B. Analisis
Ringkasan Tentang Praktik Analisis Investasi Konvensional
Suatu
organisasi mempunyai kreteria yang bebeda untuk investasi sehingga mereka
mengadopsi metode untuk analisis usulan pengeluaran modal. Seringkali suatu
metode dilengkapi dengan dua metode atau lebih untuk memastikan suatu keputusan
investasi yang tepat. Dengan cara yang sama, kebutuhan suatu organisasi,
kadang-kadang membutuhkan modifikasi terhadap metode yang biasa digunakan dan
cakupan modifikasi seperti itu sangat luas.
Metode yang paling banyak digunakan dalam
analisis investasi konvensional adalah :
1. Metode
Payback
Metode ini berari dalam
banyak waktu investasi akan membayar kembali biayanya. Biasanya dalam hitungan
tahun, meskipun periode yang lebih pendek juga diambil sebagai ukuran. Investasi
cara ini lebih baik dilakukan dengan cara membayar kembali biaya-biaya awalnya
lebih awal.
2. Accountants
Rate of Return = ARR
Metode ini adalah ukuran sederhana
menyangkut keuntungan investasi. Metode ini berhubungan dengan tingkat
pengembalian modal.
3. Discounted
Cash Flow Rate of Return = DCFR
Dua metode di atas sering di kritik
mengabaikan nilai uang sebagai fungsi waktu. Metode DCFR dibuat dengan
memperhitungkan waktu pengeluaran dan waktu berjalan. Ada tiga pertimbangan
untuk membuat metode ini. Pertama, mata uang rupiah hari ini lebih berharga
dari satu tahun ke depan, dalam kaitannya dengan inflasi yang mengurangi nilai
mata uang dari waktu ke waktu. Kedua, semakin dekat dengan hari pengembalian
investasi, semakin sedikit nilai ketidakpastian, sebab jarak waktu sering
menimbulkan ketidakpastian. Ketiga, dana yang dihasilkan suatu proyek pada
tanggal lebih awal akan tersedia untuk investasi kembali.
4. Net
Present Value Method = NPV
Pendekatan lain untuk mengevaluasi
proposal investasi adalah NPV. Ada perbedaan sedikit antara DCFR dan NPV dan keduanya
diterima sebagai perangkat yang paling pantas untuk pengangguran modal
(budgeting). Tetapi NPV tidak bisa diterima untuk alasan-alasan yang dibuat
dibawah DCFR.
5. Muchinery
Allied Product Institute Method (MAPI)
Metode ini digunakan untuk mengevaluasi
modal proyek yang kecil dan pengeluarannya tidak besar. Metode ini dengan
bantuan tabel kalkulasi terperinci memikirkan tujuan tertentu dengan membagi
rata-rata keuntungan dengan rata-rata investasi dan menemukan suatu tingkat
nilai yang dikenal sebagai MAPI. MAPI menjadi ukuran keuntungan suatu proposal.
C. Evaluasi
Investasi Dalam Kerangka Syariah
Ketika gagasan dasar
bahwa waktu mempunyai nilai dan mempertimbangkan waktu dalam arus kas adlah
sesuatu yang bisa diterima, analisis teknik pengeluaran modal sudah menggunakan
konsep modal tetap yang tidak islami. Jadi ada kepentingan untuk membuat
rumusan alternatif, di samping keinginan untuk membuat sebuah karakter yang
sederhana dan rasional dengan melibatkan uang sebagai fungsi waktu. Terkait dengan
hal ini, maka perlu adanya metode yang dapat digunakan untuk menilai atau
mengevaluasi proyek investasi sesuai dengan kerangka syariah.
Metode yang diusulkan
dalam kerangka keuangan syariah adalah “Investible Surplus Methode/metode
kelebihan barang yang diinvestasikan” atau ISM. Pertanyaan yang penting adalah
beberapa banyak “investible surplus” yang dihasilkan selama proyek berlangsung?
Jawabannya diketahui dengan menghitung banyaknya tahun di mana sisa investible
surplus organisasi (setelah menutup biaya awal proyek) dikalikan dengan kuantum
surplus.
D. Keuntungan
ISM Dibanding Metode Yang Lain
1. Dibanding
Metode Payback
a. ISM
mengukur keuntungan proyek, sedangkan Metode payback tidak.
b. Payback
mempunyai suatu penyimpangan terhadap investasi longer-lived (jangka panjang)
sedangkan ISM tidak.
c. Payback
tidak mempertimbangkan arus kas setelah biaya ditutupi sedangkan ISM mempertimbangkan
semua arus kas selamanya proyek berlangsung.
d. Payback
mengabaikan nilai uang sebagai fungsi waktu sedangkan ISM memperhitungkan kartu
pengeluaran dan waktu berjalan.
2. Dibanding
dengan ARR
ISM mempertimbangkan nilai uang sebagai
fungsi waktu, ARR tidak.
3. Dibanding
dengan DCFR dan NPV
a. Kedua
metode dipahami dalam kerangka kapitalistik dimana riba digunakan untuk
pemotongan arus kas. ISM lebih relevan digunakan dalam kerangka bebas riba,
dengan ide sentralnya adalah mengabaikan suku bunga.
b. Lebih
dari itu, ISM lebih sederhana untuk dipahami dan diterapkan dibandingkan kedua
metode ini.
4. Dibanding
MAPI
MAPI sukar digunakan dan tidak mempertimbangkan
nilai uang sebagai fungsi waktu. ISM mudah digunakan dan juga mempertimbangkan
pemilihan waktu arus kas.