Selasa, 13 Februari 2018

KEBIJAKAN DAN PENENTUAN TUJUAN PERUSAHAAN SYARI’AH



Nur Auliah
1601270017
4A- Perbankan Syariah’16 Pagi
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

KEBIJAKAN DAN PENENTUAN TUJUAN PERUSAHAAN SYARI’AH
1.      Tujuan Perusahaan Menurut Perspektif Islam
Tujuan perusahaan dalam perspektif islam adalah untuk mencapai kebaikan(maslahah) kepada masyarakat. Produksi perspektif islam tidak hanya berorientasi untuk memperoleh keuntungan setinggi-tingginya, meskipun mencari keuntungan juga tidak dilarang.
Secara spesifik Siddiqi mengungkapkan perlunya dalam memperoleh profit maksimal, namun dia juga menyebutkan bahwa perlunya konsep “suka sama suka” di dalam islam akan mengerahkan pada keadilan masyarakat dan “memperhatikan kesejahteraan orang lain” harus menjadikan tujuan utama. Lebih rinci dia menyebutkan beberapa macam tujuan kegiatan produksi, seperti:
a.       Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan senidiri secara wajar.
b.      Pemenuhan kebutuhan masyarakat.
c.       Persediaan terhadap kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang.
d.      Persediaan bagi generasi yang akan datang.
e.       Pemenuhan sarana bagi kegiatan sosial dan ibadah kepada Allah.
Dalam produksi tidak diperbolehkan untuk melakukan eksploitasi seperti eksploitasi SDA dan eksploitasi SDM, seperti yang diungkapkan oleh Al-Habshi, bahwa islam tidak menginginkan adanya eksploitasi dalam mencari keuntungan, lebih lanjut dia menjelaskan bahwa islam menganjurkan pada umatnya untuk meraih kebikan hidup dunia dan akhirat.
2.      Keberagaman Tujuan Perusahaan
Dari berbagai bentuk tujuan perusahaan, bisa digunakan fungsi variasi untuk menjelaskan variabel Al-Habshi membuat persamaan dari tujuan perusahaan dengan simbol F, yang mana mewakili dari variabel “falah” sebab tujuan akhir seorang muslim adalah perlunya konsep “falah” atau sukses di dunia dan akhirat. Untuk persamaannya lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

F = f (X1, X2, X3, Z,...Xn)


Keterangan:
F          = Falah (kemenangan)
X1          = Profit optimum
X2        = Harga yang adil
X3          = Output optimum
Z         = zakat yang dikeluarkan

Dimana profit, harga, output, zakat variabel-variabel itu dapat diukur dan Xn adalah variabel yang tidak dapat diukur, seperti berkah. Dikatakan berkah karena tidak ada praktik riba dan perjudian.
3.      Relevansi Tujuan Perusahaan Dan Tata Kelola Perusahaan
 Devenisi tata kelola perusahaan dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, dalam arti sempit tata kelola perusahaan dapat didefenisikan sebagai suatu sistem formal akuntabilitas manajemen senior kepda pemegang saham. Kedua dalam arti luas tata kelola perusahaan mencakup keseluruhan jaringan hubungan formal dan informal yang menyangkut sektor perusahaan dan konsekuensinya bagi masyarkat secara umum.
Tata kelola perusahaan secara islam berdasarkan model berorientasi stakeholder. Dalam model ini menyajikan kandungan dua konsep dsar prinsip-prinsip syariah, yakni prinsip hak milik dan prinsip kerangka kontrak. Tata kelola setiap perusahaan dalam islam diatur oleh syariah bagi smeua stakeholder termasuk pemegang saham, manajemen, dan stakeholder lain seperti karyawan, para pemasok, para pemodal, dan masyarakat.
Konsep tata kelola perusahaan dari persepektif islam tidak banyak berbeda dengan defenisi konvensional karena hal tersebut mangacu pada sebuah sistem, yaitu perusahaan diarahkan dan dikendalikan agar memenuhi tujuan perusahaan dengan melindungi kepentingan dan hak semua stakeholder. Namun demikian, paradigma islam memperlihatkan perbedaan karakteristik atau ciri-ciri dibandingkan dengan sistem konvensional ketika berkenaan dengan persoalan konsep pengambilan keputusan yang lebih luas dengan menggunakan dasar pemikiran (premis) epistemologi sosial-ilmiah islam yang berdasarkan pada ketauhidan Allah.
Konsep tata kelola perusahaan persepektif islam menunjukan bahwa pendekatan tata kelola perusahaan islam didasarkan pada model epistemologi tauhid menurunkan konsep penting khalifah dan keadilan atau keseimbangan (al-adl wal ihsan). Prinsip keseimbangan sosial (al- adl wal ihsan) dalam konteks ekonomi memberikan konfigurasi terbaik pada kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi. Dalam konteks ini, kebutuhan semua anggota masyarakat merupakan prioritas utama di atas individu. Semua proses ini berpusat pada pemenuhan terhadap tujuan utama tata kelola perusahaan islam yang melengkapi tujuan pribadi dan tujuan sosial melalui penegakan prinsip keadilan distributif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar